Budayawan Sunda Uu Rukmana mengambil alih sebagian besa majalah
berbahasa Sunda, Mangle dari Ujang Dorojatun sebagai pemiliki minoritas
saham PT Mangle Panglipur. Pengambil alihan saham mayoritas majalah
Mangle ini dilakukan pada Senin (11/5/2015) kemarin dihadapan notaris.
Dengan pengambilalihan sama mayoritas majalah Mangle ini, maka Uu
Rukmana kini tercatat sebagai Pemimpin Perusahaan/Pemimpin Umum.
Majalah Mangle salah satu majalah berbahasa Sunda yang paling tua di
Jabar. Didirikan di Bogor, pada 21 November 1957 lalu oleh Oeton
Moechtar, Rochamina Sudarmika, Wahyu Wibisana, Sukanda Kartasasmita,
Saléh Danasasmita, Utay Muchtar, dan Alibasah Kartapranata.
Pak Ujang Dorojatun, mengaui ada pengambilan mayoritas saham Mangle tersebut.
"Betul, Sebab hampir 85 tahun mangle terbit, bisa dibilang mengalami
degradasi, hidup enggan mati tak mau, Pak UU berkehendak memajukan
mangle, kenapa tidak? itu menjadi hal yang paling utama," katanya.
Ia menilai, Uu Rukmana adalah salah satu orang yang tetap Konsisten terhadap Mangle.
"Bahkan sejak 20 tahun lalu, misalnya, para pengarang penilih selalu
beliau apresiasi, berupa hadiah, dan dari tahun ke tahunnya angkanya
selalu berubah" katanya.
"Saya pikir sekaranglah waktu yang tepat demi tumbuh dan terus
berkembangnya mangle, karena Pak UU sangat menggebu-gebu memajukan
mangle," tambahnya.
Yang paling utama itu kata dia adalah mangle-nya. Dikatakanna,
Majalah Mangle memang harus berpegang tangan terhadap tokoh yang peduli,
mangle memerlukan manajerial yang handal dan penuh cinta.
"Tidak untuk asal-asalan hanya bisnis atau live service saja, misi
menjadi pionir di Jawa Barat tetap harus dijaga, itu harapan besar dalam
peristiwa ini," ungkapnya.
Saat disinggung perihal konsep atau pengemasan Mangle ke depan, Ujang
menyatakan, semuanya masih dalam perundingan. "Orang-orang lama juga
masih turut serta berperan didalamnya, kita tidak kemana-mana dan akan
memajukan mangle bersama-sama," pungkasnya.
Dalam sejarah media bahasa Sunda, Manglé termasuk paling eksis. Pada
dekade tahun 1960-an, oplah majalah ini sempat sampai 90.000 eksemplar.
Sampai sekarang Manglé masih beredar. Yang pertama mengidekan kata
manglé adalah Wahyu Wibisana, yang artinya bahasa Sunda ranggeuyan
kembang atau untayan bunga.
Sumber
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment