News Update :

Pilpres RI di Irak di Bawah Ancaman Bom

Saturday, July 5, 2014

Surat suara Pemilu 2014 untuk luar negeri (Ilustrasi)Situasi Irak yang kini tengah berkecamuk akibat serangan tentara Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) tidak menurunkan semangat Panitia Pemilihan Luar Negeri (PPLN) Baghdad untuk menyelenggarakan pilpres 2014.

Akibat situasi keamanan yang belum kondusif, beberapa petugas PPLN bekerja di bawah ancaman bom dan muntahan peluru. 

Demikian ungkap Ketua PPLN, Muhammad Dedy Soeaidy, Dedy mengatakan mereka tengah bersiap untuk menggelar pilpres. 

Daftar pemilih tetap yang tercatat di PPLN Baghdad hanya 502 orang. Untungnya, di antara mereka tidak ada yang bermukim di daerah yang saat ini di bawah kekuasaan ISIS. 

Dari angka 502, sebanyak 70 persen di antaranya merupakan Tenaga Kerja Indonesia. Sama seperti negara di kawasan Timur Tengah lainnya, pilpres di Irak juga tidak mengikuti aturan KPU yakni pukul 08.00. 

"Kami tetap buka sejak pagi, namun memang tidak sesuai dengan aturan KPU. Kami ingin menjaring sebanyak mungkin pemilih, oleh sebab itu, kami buka pukul 10.00 hingga 22.00 waktu setempat," ujar dia. 

Dedy mengatakan, apabila TPS dibuka sesuai jam KPU, tingkat partisipasi dikhawatirkan rendah. Karena TKI tidak mungkin keluar rumah tanpa majikan. 

"Sementara majikan baru keluar rumah sejak Zuhur hingga malam hari," imbuh Dedy. 

Hindari Bom

Cuaca di saat pemilu berlangsung, lanjut Dedy, juga sangat panas yaitu 45 derajat hingga 50 derajat celcius. Sistem pencoblosan suara dilakukan dengan dua metode yakni TPS dan drop box. 

Untuk TPS, papar Dedy, dibangun di kota Erbil, area bagian Kurdistan, utara Irak. Khusus di Baghdad, TPS berada di KBRI. 

Untuk bisa menuju Erbil dari Baghdad, harus ditempuh melalui jalur udara, karena apabila dilalui jalur darat, akan melewati area yang telah dikuasai tentara ISIS.

"Pemilih yang tercatat akan datang ke TPS mencapai 265 orang. Sisanya mereka akan menggunakan hak pilihnya melalui drop box,"  papar Dedy. 

Mereka sengaja tidak menggunakan metode pos, karena surat suara sulit dikirim kembali.  

Sementara untuk sistem, karena petugas PPLN ingin memaksimalkan tingkat partisipasi WNI, maka mereka harus berkeliling ke tujuh provinsi.

Untuk mengindari peluru dan lemparan bom, mereka memilih jalur yang lebih aman di bagian selatan. Kendati begitu, Dedy menyebut mau tetap saja menghantui petugas PPLN. 

"Di Baghdad, peristiwa bom hampir setiap hari ditemukan. Oleh sebab itu, kami tidak bisa memprediksi atau menebak lokasi bom itu. Belum lagi, ada tentara ISIS yang telah masuk secara perorangan ke area selatan yang selama ini dianggap masih aman dari cengkeraman tentara militan itu," ujar dia. 
 
Share this Article on :

0 comments:

Post a Comment

 

© Copyright Apakabar Bandung 2012 | Design by Herdiansyah Hamzah | Published by Borneo Templates | Modified by Blogger Tutorials.