Menjelang Idulfitri 2014, pendapatan sejumlah
perajin di sentra rajut Binongjati, Bandung mengalami penurunan
drastis. Persaingan yang sangat ketat dan kenaikan bahan baku menjadi
penyebab merosotnya penjualan.
Salah seorang perajin rajut, Darmawan (43) mengatakan, pendapatan di tempat usahanya turun hingga 50%. Kondisi seperti ini juga dialami perajin lainnya. Dikatakan, menjelang Ramadan hingga Lebaran merupakan masa yang tak menguntungkan bagi perajin rajut.
“Kita perajin hampir tiap tahun mengalami penurunan jumlah konsumen, yaitu tiap Ramadan hingga Lebaran dan kembali stabil pasca-Lebaran,” ujarnya saat ditemui “GM” di Jln. Binongjati, baru-baru ini.
Saat ini pendapatannya Rp 40 juta/bulan. Sementara dalam situasi stabil bisa mencapai Rp 100 juta/bulan.
Disinggung mengenai penyebabnya, ia mengatakan ada banyak faktor. Di antaranya kenaikan harga bahan baku dan persaingan yang semakin ketat. Juga modal yang tak memadai, teknologi yang kurang menunjang, dan persaingan harga.
“Keadaan stabil itu berlangsung delapan bulan dalam setahun dan empat bulan lainnya tidak menentu. Saat keadaan stabil orderan tinggi, bahan baku tersedia, dan karyawan ada,” katanya.
Untuk mengembangkan usahanya, ia mengandalkan konsumen tetap, membuat produk unggulan, dan alih teknologi dari manual ke digital.
Kondisi serupa juga dirasakan perajin lainnya, Umi (28). Menurutnya, penurunan pendapatan merupakan hal yang biasa terjadi menjelang Lebaran. Kondisi stabil diprediksi akan kembali dirasakan pasca-Lebaran dan pada musim haji.
Penurunan konsumen menurutnya disebabkan beragamnya fesyen yang kini banyak ditawarkan. Sehingga usaha mereka tergeser oleh produk di pasaran.
“Tahun ini penurunannya lebih parah dari tahun kemarin. Konsumen sudah punya lebih banyak pilihan di luar,” katanya.
Penurunan penghasilan yang dialaminya mencapai 50% dibanding tahun lalu. “Tahun lalu omzet per bulan bisa Rp 50 juta. Saat ini hanya Rp 20 juta,” ujarnya.
sumber
Salah seorang perajin rajut, Darmawan (43) mengatakan, pendapatan di tempat usahanya turun hingga 50%. Kondisi seperti ini juga dialami perajin lainnya. Dikatakan, menjelang Ramadan hingga Lebaran merupakan masa yang tak menguntungkan bagi perajin rajut.
“Kita perajin hampir tiap tahun mengalami penurunan jumlah konsumen, yaitu tiap Ramadan hingga Lebaran dan kembali stabil pasca-Lebaran,” ujarnya saat ditemui “GM” di Jln. Binongjati, baru-baru ini.
Saat ini pendapatannya Rp 40 juta/bulan. Sementara dalam situasi stabil bisa mencapai Rp 100 juta/bulan.
Disinggung mengenai penyebabnya, ia mengatakan ada banyak faktor. Di antaranya kenaikan harga bahan baku dan persaingan yang semakin ketat. Juga modal yang tak memadai, teknologi yang kurang menunjang, dan persaingan harga.
“Keadaan stabil itu berlangsung delapan bulan dalam setahun dan empat bulan lainnya tidak menentu. Saat keadaan stabil orderan tinggi, bahan baku tersedia, dan karyawan ada,” katanya.
Untuk mengembangkan usahanya, ia mengandalkan konsumen tetap, membuat produk unggulan, dan alih teknologi dari manual ke digital.
Kondisi serupa juga dirasakan perajin lainnya, Umi (28). Menurutnya, penurunan pendapatan merupakan hal yang biasa terjadi menjelang Lebaran. Kondisi stabil diprediksi akan kembali dirasakan pasca-Lebaran dan pada musim haji.
Penurunan konsumen menurutnya disebabkan beragamnya fesyen yang kini banyak ditawarkan. Sehingga usaha mereka tergeser oleh produk di pasaran.
“Tahun ini penurunannya lebih parah dari tahun kemarin. Konsumen sudah punya lebih banyak pilihan di luar,” katanya.
Penurunan penghasilan yang dialaminya mencapai 50% dibanding tahun lalu. “Tahun lalu omzet per bulan bisa Rp 50 juta. Saat ini hanya Rp 20 juta,” ujarnya.
sumber



0 comments:
Post a Comment