Menteri
Hukum dan Hak Asasi Manusia Amir Syamsuddin menegaskan, pemerintah
terbuka kemungkinan untuk meninjau ulang pembebasan bersyarat yang telah
diberikan kepada Schapelle Leigh Corby menyusul wawancara yang
dilakukan kakaknya, Mercedes, dengan media Australia, Channel 7.
Keputusan dicabut atau tidak
pembebasan bersyarat Corby sangat bergantung pada laporan/rekomendasi
Balai Pemasyarakatan Denpasar.
”Sangat terbuka kemungkinan
(pembebasan bersyarat Corby) untuk ditinjau kembali. Itu sangat
tergantung dari laporan yang akan kami dapatkan dari lapangan,” ungkap
Amir kepada Kompas, Senin (3/3/2014).
Saat ini, Amir masih menunggu laporan dan rekomendasi yang disampaikan balai pemasyarakatan di Bali.
Laporan tersebut akan mengurai apakah
terdapat persinggungan antara wawancara yang dilakukan Mercedes dan
persyaratan yang diberikan Kementerian Hukum dan HAM yang telah
disetujui Corby ketika pembebasan bersyarat diberikan.
Apabila terdapat persinggungan (baca pelanggaran), Amir akan melihat seberapa derajat pelanggaran yang dilakukan.
”Kalau nanti sampai pada putusan yang
sangat terpaksa kami lakukan, ini tidak terlepas dari tanggung jawab
keluarganya, yang saya lihat tidak prihatin dengan yang kami hadapi,”
ungkapnya.
Amir mengaku kesabarannya sangat diuji
dengan kasus Corby. Ia menilai keluarga Corby tidak memahami beratnya
tekanan yang harus dirasakan Kementerian Hukum dan HAM ketika memutuskan
memberikan pembebasan bersyarat kepada Corby beberapa waktu lalu.
”Seakan-akan hanya untuk membela
seorang Corby, saya harus mengalami tekanan seperti ini sehingga muncul
beragam isu. Seharusnya, mereka mengerti ya,” ujar Amir.
Amir mengaku sudah berkomunikasi dengan Kepala Divisi Pemasyarakatan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Bali.
Menurut laporan yang diterima, mereka
sudah memanggil Mercedes untuk meminta keterangan mengapa mengeluarkan
pernyataan-pernyataan yang seakan-akan menuduh ganja tersebut berasal
dari Indonesia.
Dalami motif
Kementerian Hukum dan HAM juga mendalami motif yang melatarbelakangi dilakukannya wawancara tersebut.
”Boleh saya katakan, saya menduga
mereka ini melakukan (wawancara) untuk motif-motif suatu perhitungan
keuntungan. Sangat saya sayangkan kalau ada sikap seperti itu, sementara
kami cukup berat menghadapi gugatan di dalam negeri,” tuturnya.
Langkah Mercedes tersebut, lanjut
Amir, membuat keluarga Corby terlihat bukan pihak yang tahu berterima
kasih ataupun bersyukur dengan yang sudah diperoleh.
Pemantauan Kompas di Bali, menunjukkan, kini, Corby mulai tinggal di rumah iparnya di Kuta, Kabupaten Badung, Bali.
Ia telah meninggalkan Villa Sentosa
Seminyak, sebuah vila mewah di Petitenget, Badung, Bali, menjelang dini
hari. Vila itu menjadi tempat Corby menginap setelah kebebasannya pada
10 Februari lalu.
”Ini menghindari kejaran wartawan.
Jadi, pulangnya saat gelap,” kata iparnya yang juga sebagai penjaminnya,
Wayan Widyartha, ketika dihubungi Kompas, kemarin.
Saat pulang, Corby ditemani kakaknya,
Mercedes, dan ibunya. Wayan Widyartha juga memaparkan, saat ini Corby
masih belum sehat dan masih mengalami stres.
Mercedes diwawancara
Namun, Wayan Widyartha menolak menjelaskan panjang lebar dan segera menutup telepon selulernya ketika ditanya Kompas mengenai wawancara dengan Channel 7.
Ia mengulang dan menegaskan bahwa Corby belum ingin diganggu media.
Soal wawancara dengan Channel 7, Wayan menegaskan bahwa Corby tidak melakukannya.
”Schapelle Corby tidak diwawancara. Kakak Corby, Mercedes, yang diwawancara,” kata Wayan Widyartha.



0 comments:
Post a Comment