Pemerintah Provinsi Jawa Barat mengalokasikan dana sebesar Rp 5 miliar untuk pelaksanaan operasi pasar (OP) dan stabilisasi harga-harga kebutuhan pokok masyarakat.
"Untuk tahun ini alokasi dana untuk operasi pasar mencapai Rp 5 miliar dan itu sama dengan alokasi tahun lalu," jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif.
Dikatakannya, operasi pasar disiapkan untuk mengantisipasi gejolak kenaikan harga jelang Ramadan dan Lebaran. Operasi pasar dilakukan untuk tiga komoditas, yaitu beras, minyak goreng, dan gula pasir.
"Nanti pemerintah kabupaten/kota yang akan melaksanakannya. Mereka yang tahu daerah-daerah mana saja yang memerlukan operasi pasar," katanya.
Namun pihaknya menyarankan agar operasi pasar digelar lebih dioptimalkan di pelosok.
Terlebih selama ini operasi pasar di wilayah perkotaan kurang efektif. Terlihat dari sisi penyaluran dana operasi pasar tahun lalu. Dana yang terserap masih di bawah 10 persen dari alokasi yang mencapai Rp 5 miliar.
"Penyerapan dana untuk operasi pasar memang sangat rendah, masih di bawah 10 persen. Ini karena masyarakat kecil lebih memilih menyerap corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan besar dan BUMN," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap operasi pasar lebih dioptimalkan di wilayah perdesaan. "Kalau di perkotaan, masyarakat menganggap operasi pasar itu tidak menarik," katanya.
Untuk optimalisasi operasi pasar tersebut, lanjutnya, pemerintah kabupaten/kota perlu menginventarisasi dari sekarang. Sehingga bisa diketahui berapa kebutuhan dan lokasi-lokasi yang membutuhkan operasi pasar. Apalagi biasanya operasi pasar dilakukan pada saat harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
Mengenai pengaruh kenaikan harga BBM, Ferry mengungkapkan, rencana kenaikan harga BBM memang memengaruhi harga beberapa komoditas di pasaran dengan kenaikannya 2,5 - 3 persen. Namun tergantung komoditasnya. JIka kenaikan harga BBM diberlakukan pemerintah pada bulan Juni ini, tentu kenaikan harga komoditas pun akan terjadi.
"Kita harapkan kenaikannya rata-rata di bawah 10 persen sehingga terjadi tidak terlalu memberatkan masyarakat," katanya.
Saat ini pemerintah masih mengkaji rencana kenaikan harga BBM tersebut.
"Untuk tahun ini alokasi dana untuk operasi pasar mencapai Rp 5 miliar dan itu sama dengan alokasi tahun lalu," jelas Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Barat, Ferry Sofwan Arif.
Dikatakannya, operasi pasar disiapkan untuk mengantisipasi gejolak kenaikan harga jelang Ramadan dan Lebaran. Operasi pasar dilakukan untuk tiga komoditas, yaitu beras, minyak goreng, dan gula pasir.
"Nanti pemerintah kabupaten/kota yang akan melaksanakannya. Mereka yang tahu daerah-daerah mana saja yang memerlukan operasi pasar," katanya.
Namun pihaknya menyarankan agar operasi pasar digelar lebih dioptimalkan di pelosok.
Terlebih selama ini operasi pasar di wilayah perkotaan kurang efektif. Terlihat dari sisi penyaluran dana operasi pasar tahun lalu. Dana yang terserap masih di bawah 10 persen dari alokasi yang mencapai Rp 5 miliar.
"Penyerapan dana untuk operasi pasar memang sangat rendah, masih di bawah 10 persen. Ini karena masyarakat kecil lebih memilih menyerap corporate social responsibility (CSR) dari perusahaan besar dan BUMN," katanya.
Oleh karena itu, pihaknya berharap operasi pasar lebih dioptimalkan di wilayah perdesaan. "Kalau di perkotaan, masyarakat menganggap operasi pasar itu tidak menarik," katanya.
Untuk optimalisasi operasi pasar tersebut, lanjutnya, pemerintah kabupaten/kota perlu menginventarisasi dari sekarang. Sehingga bisa diketahui berapa kebutuhan dan lokasi-lokasi yang membutuhkan operasi pasar. Apalagi biasanya operasi pasar dilakukan pada saat harga kebutuhan pokok melambung tinggi.
Mengenai pengaruh kenaikan harga BBM, Ferry mengungkapkan, rencana kenaikan harga BBM memang memengaruhi harga beberapa komoditas di pasaran dengan kenaikannya 2,5 - 3 persen. Namun tergantung komoditasnya. JIka kenaikan harga BBM diberlakukan pemerintah pada bulan Juni ini, tentu kenaikan harga komoditas pun akan terjadi.
"Kita harapkan kenaikannya rata-rata di bawah 10 persen sehingga terjadi tidak terlalu memberatkan masyarakat," katanya.
Saat ini pemerintah masih mengkaji rencana kenaikan harga BBM tersebut.



0 comments:
Post a Comment