Dari delapan kandidat Wali Kota Bandung 2013-2018, hanya empat pasangan yang menghadiri Diskusi Publik Bandung Menuju Smart City yang digelar di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Jln. Ganesha Bandung.
Keempat pasangan calon wali kota dan wakil wali kota tersebut berasal dari jalur independen, yakni pasangan nomor urut 1 Wahyudin Karnadinata-Tony Aprilani, pasangan nomor urut 3 Wawan Dewanta-Sayogo, pasangan nomor urut 7 Budi "Dalton" Setiawan-Rizal Firdaus, dan calon wali kota nomor urut 8 Bambang Setiadi.
Sedangkan empat pasangan dari jalur partai politik/gabungan partai politik tidak hadir dalam diskusi tersebut. Berdasarkan pengumuman panitia, Edi Siswadi-Erwan Setiawan, Ayi Vivananda-Nani Suryani, dan M.Q. Iswara-Asep Dedy Ruyadi mengonfirmasi tidak bisa hadir. Sedangkan pasangan Ridwan Kamil-Oded M. Danial menyatakan sedang menuju lokasi. Namun hingga acara selesai, pasangan Rido ini tidak hadir.
Diskusi publik ini dipandu moderator Prof. Suhono Harso Pangkat, CGEIT dan enam panelis yakni Prof. Dede Mariana (Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Publik dan Pengembangan Wilayah Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran), Prof. Ir. Ofyar Z. Tarmin, M.Sc., Ph.D. (guru besar, member of Transportation Engineering Research Group, FTSL ITB), dr. Tri Wahyubi Murni (Ketua IDI Kota Bandung), Dr. Ir. Ibnu Syabri, M.Sc. (Kepala Pusat Penelitian Infrastruktur dan Kewilayahan ITB), Dr. Eko Purwono (pengamat pendidikan), dan Sufyan (pengurus PWI Jawa Barat bidang Media Online dan Jurnalis Gadget Pikiran Rakyat).
Terdapat tiga sesi dalam diskusi publik ini. Sesi pertama yakni pemaparan visi, misi, dan program pasangan terkait dengan Menuju Bandung sebagai Smart City selama lima menit. Setelah itu, para panelis memberikan pertanyaan kepada para pasangan di sesi kedua dengan cakupan materi smart transportation, smart education, smart health, infrastruktur wilayah, sosial, dan permasalahan yang ada di Bandung saat ini. Pada sesi terkahir, keempat pasangan mendapatkan pertanyaan dari audiens.
Tak memahami
Ketua IDI Kota Bandung, Tri Wahyuni Murni menyatakan, ia belum mendapatkan gambaran yang jelas dari masing-masing kandidat untuk menjadikan Bandung sebagai smart city. Termasuk dalam hal ini adalah smart health.
"Saya melihat dari acara diskusi ini, belum adanya gambaran jelas mengenai program mereka," katanya kepada wartawan usai acara.
Menurutnya, para kandidat tidak memahami permasalahan yang terjadi khususnya dalam masalah kesehatan. Ia mencontohkan, mengapa jumlah kematian meningkat meski di Bandung ada 30 rumah sakit.
"Tidak ada yang menyinggung mengenai permasalahannya yakni jumlah kapasitas rumah sakit untuk melayani pasien masih kurang," katanya.
Dengan kondisi seperti itu, maka tidak ada gunanya masyarakat diberikan kartu sehat jika mereka terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung. Karena ketersediaan fasilitas di rumah sakit masih kurang.
"Dari 30 rumah sakit, jumlah tempat duduk bagi pasien sekitar 1.000 orang, sedangkan jumlah warga Kota Bandung sekitar 2 juta orang. Tentunya tidak memadai. Jika kartu sehat disebar sedangkan fasilitas masih kurang, maka akan jadi permasalahan," tegasnya.
Keempat pasangan calon wali kota dan wakil wali kota tersebut berasal dari jalur independen, yakni pasangan nomor urut 1 Wahyudin Karnadinata-Tony Aprilani, pasangan nomor urut 3 Wawan Dewanta-Sayogo, pasangan nomor urut 7 Budi "Dalton" Setiawan-Rizal Firdaus, dan calon wali kota nomor urut 8 Bambang Setiadi.
Sedangkan empat pasangan dari jalur partai politik/gabungan partai politik tidak hadir dalam diskusi tersebut. Berdasarkan pengumuman panitia, Edi Siswadi-Erwan Setiawan, Ayi Vivananda-Nani Suryani, dan M.Q. Iswara-Asep Dedy Ruyadi mengonfirmasi tidak bisa hadir. Sedangkan pasangan Ridwan Kamil-Oded M. Danial menyatakan sedang menuju lokasi. Namun hingga acara selesai, pasangan Rido ini tidak hadir.
Diskusi publik ini dipandu moderator Prof. Suhono Harso Pangkat, CGEIT dan enam panelis yakni Prof. Dede Mariana (Kepala Pusat Penelitian Kebijakan Publik dan Pengembangan Wilayah Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran), Prof. Ir. Ofyar Z. Tarmin, M.Sc., Ph.D. (guru besar, member of Transportation Engineering Research Group, FTSL ITB), dr. Tri Wahyubi Murni (Ketua IDI Kota Bandung), Dr. Ir. Ibnu Syabri, M.Sc. (Kepala Pusat Penelitian Infrastruktur dan Kewilayahan ITB), Dr. Eko Purwono (pengamat pendidikan), dan Sufyan (pengurus PWI Jawa Barat bidang Media Online dan Jurnalis Gadget Pikiran Rakyat).
Terdapat tiga sesi dalam diskusi publik ini. Sesi pertama yakni pemaparan visi, misi, dan program pasangan terkait dengan Menuju Bandung sebagai Smart City selama lima menit. Setelah itu, para panelis memberikan pertanyaan kepada para pasangan di sesi kedua dengan cakupan materi smart transportation, smart education, smart health, infrastruktur wilayah, sosial, dan permasalahan yang ada di Bandung saat ini. Pada sesi terkahir, keempat pasangan mendapatkan pertanyaan dari audiens.
Tak memahami
Ketua IDI Kota Bandung, Tri Wahyuni Murni menyatakan, ia belum mendapatkan gambaran yang jelas dari masing-masing kandidat untuk menjadikan Bandung sebagai smart city. Termasuk dalam hal ini adalah smart health.
"Saya melihat dari acara diskusi ini, belum adanya gambaran jelas mengenai program mereka," katanya kepada wartawan usai acara.
Menurutnya, para kandidat tidak memahami permasalahan yang terjadi khususnya dalam masalah kesehatan. Ia mencontohkan, mengapa jumlah kematian meningkat meski di Bandung ada 30 rumah sakit.
"Tidak ada yang menyinggung mengenai permasalahannya yakni jumlah kapasitas rumah sakit untuk melayani pasien masih kurang," katanya.
Dengan kondisi seperti itu, maka tidak ada gunanya masyarakat diberikan kartu sehat jika mereka terpilih menjadi Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung. Karena ketersediaan fasilitas di rumah sakit masih kurang.
"Dari 30 rumah sakit, jumlah tempat duduk bagi pasien sekitar 1.000 orang, sedangkan jumlah warga Kota Bandung sekitar 2 juta orang. Tentunya tidak memadai. Jika kartu sehat disebar sedangkan fasilitas masih kurang, maka akan jadi permasalahan," tegasnya.



0 comments:
Post a Comment