Pengusungan Ir. M.Q. Iswara-Asep Deddy Ruyadi untuk calon Wali kota dan Wakil Wali Kota Bandung yang sama-sama dari internal Partai Golkar, menunjukkan partai berlambang pohon beringin ini terkesan terdesak. Meski dalam Pilwalkot Bandung kali ini Golkar didukung 15 partai gurem.Demikian disampaikan pengamat ilmu politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Sahya Anggara, Drs., M.Si.
Menurut Sahya, pengusungan calon kandidat dari internal partai itu juga merupakan kebijakan yang egois. Padahal Golkar merupakan partai besar yang kemampuan berpolitiknya tidak diragukan lagi.
"Kalangan partai dan elite politiknya menunjukkan egonya masing-masing sehingga begitu berani mengusung pasangan dari partai sendiri," papar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN SGD Bandung.
Sahya melanjutkan, pengusungan calon dari kalangan internal itu sudah menjadi pandangan politik partai dan dianggap sebagai kekuatan, sehingga merasa percaya diri.
Sahya berasumsi, sikap Partai Golkar ini karena tidak ada alternatif lain sehingga mereka nekat tidak berkoalisi dengan partai lainnya. Kendati akhirnya Golkar harus bergabung dengan 15 partai gurem yang tak punya kursi di parlemen.
Namun demikian Sahya berharap, kehadiran 15 partai gurem di lingkaran Partai Golkar ini bisa mendongkrak suara di pilwalkot. Terlebih deadline pendaftaran sudah mepet sehingga apa pun yang diambil menjadi konsekuensi tersendiri bagi Golkar.
Namun demikian, Sahya tidak melihat ada kepanikan di Partai Golkar, meski pasangan calonnya diambil dari kader Golkar sendiri. "Saya anggap, Golkar sudah sangat pede. Langkah mengusung calon dari kalangan partai sendiri justru langkah konkret," pungkasnya.Jadi kontestan
Setelah sempat dilanda ketidakpastian usai ditinggalkan Edi Siswadi yang merapat ke Partai Demokrat, Partai Golkar akhirnya maju sebagai kontestan pada Pilwalkot Bandung di detik-detik terakhir.
Berkoalisi dengan 15 parpol yang sebelumnya mengusung Ridwan Kamil, Golkar akhirnya mengusung dua kader terbaiknya, M.Q. Iswara dan Asep Deddy Ruyadi atau Ide. Keduanya secara resmi mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung, Minggu (17/3).
Nama Iswara dan Asep Deddy sudah tidak asing lagi di kancah politik Kota Bandung dan Jawa Barat. Iswara tercatat sebagai Ketua Komisi D DPRD Jawa Barat dan Sekretaris DPD Partai Golkar Jabar. Sedangkan Asep Deddy saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bandung dan Wakil Ketua DPRD Kota Bandung.
Diantar ratusan pendukungnya, termasuk partai pengusung, Iswara-Asep datang ke KPU Kota Bandung sekitar pukul 11.45 WIB. Keduanya mengenakan kemeja putih lengan panjang dipadu celana katun hitam. Pasangan Ide ini diterima Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Pencalonan, Andri Nurdin.
Pokja Pencalonan menyatakan, Iswara-Asep dinyatakan bisa mendaftarkan diri. Karena jumlah dukungan dari partai pengusung berjumlah 15,81 persen.
Iswara menyatakan, Golkar memutuskan untuk mendaftarkan diri masa injury time. Apalagi, Golkar baru saja ditinggalkan kadernya yang akan diusung karena memilih hengkang ke partai lain.
"Di media massa dalam tiga hari ini ramai diberitakan tentang masalah tersebut. Di detik-detik terakhir, Golkar ditinggalkan orang yang mengaku kader tapi pindah ke partai lain," ujarnya.
Seiring perkembangan, lanjut Iswara, Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie menelepon dan memintanya untuk maju dalam Pilwalkot Bandung 2013.
"Sebagai kader, saya ditugaskan untuk menyelamatkan Golkar dan memenangkan Pilwalkot Bandung," katanya.
Selain, itu Ical --panggilan ak-rab Aburizal Bakrie-- juga menginstruksikan Iswara untuk mencari pasangan dan melakukan koalisi. "Setelah itu, akhirnya saya memutuskan untuk menggandeng Pak Asep Deddy Ruyadi yang memiliki kapasitas, kapabilitas, dan memiliki chemistry dengan saya," tambahnya.
Sementara itu, Asep mengaku keduanya diperintahkan langsung Ical untuk maju dalam pilwalkot. Menurutnya, Iswara adalah "tangan Tuhan" yang menyelamatkan Golkar setelah dizalimi.
"Pak Iswara adalah tangan Tuhan yang telah menyelamatkan Golkar. Saya telah memaafkan Edi Siswadi yang telah pindah ke partai lain. Marilah kita bersaing dengan sehat dan tidak ada ganjalan lagi," katanya.15 partai pengusung
Partai yang mengusung pasangan dari Golkar yaitu PDS (Partai Damai Sejahtera), PKNU (Partai Kebangkitan Nahdlatul Umat), PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa) PBR (Partai Bintang Reformasi), Barnas (Barisan Nasional) PPD (Partai Persatuan Daerah), Partai Merdeka, PKDI (Partai Kesatuan Demokrasi Indonesia), PPI (Partai Persatuan Indonesia), PNBKI (Partai Nasional Bangkit Kedaulatan Indonesia), Partai Kedaulatan, Patriot, PPDI (Partai Persatuan Demokrasi Indonesia), PIS (Partai Indonesia Sejahtera), dan PDP (Partai Demokrasi Pembaharuan).
Sementara itu, KPU Kota Bandung menunggu berkas keabsahan kepengurusan dari partai politik nonparlemen pengusung pasangan Iswara-Asep Deddy.
"Hingga batas waktu terakhir malam ini (kemarin, red) berkas tersebut harus dipenuhi. Jika tidak, KPU akan memutuskan nasib pasangan Iswara-Asep Deddy melalui rapat pleno," katanya.
Menurut Sahya, pengusungan calon kandidat dari internal partai itu juga merupakan kebijakan yang egois. Padahal Golkar merupakan partai besar yang kemampuan berpolitiknya tidak diragukan lagi.
"Kalangan partai dan elite politiknya menunjukkan egonya masing-masing sehingga begitu berani mengusung pasangan dari partai sendiri," papar Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN SGD Bandung.
Sahya melanjutkan, pengusungan calon dari kalangan internal itu sudah menjadi pandangan politik partai dan dianggap sebagai kekuatan, sehingga merasa percaya diri.
Sahya berasumsi, sikap Partai Golkar ini karena tidak ada alternatif lain sehingga mereka nekat tidak berkoalisi dengan partai lainnya. Kendati akhirnya Golkar harus bergabung dengan 15 partai gurem yang tak punya kursi di parlemen.
Namun demikian Sahya berharap, kehadiran 15 partai gurem di lingkaran Partai Golkar ini bisa mendongkrak suara di pilwalkot. Terlebih deadline pendaftaran sudah mepet sehingga apa pun yang diambil menjadi konsekuensi tersendiri bagi Golkar.
Namun demikian, Sahya tidak melihat ada kepanikan di Partai Golkar, meski pasangan calonnya diambil dari kader Golkar sendiri. "Saya anggap, Golkar sudah sangat pede. Langkah mengusung calon dari kalangan partai sendiri justru langkah konkret," pungkasnya.Jadi kontestan
Setelah sempat dilanda ketidakpastian usai ditinggalkan Edi Siswadi yang merapat ke Partai Demokrat, Partai Golkar akhirnya maju sebagai kontestan pada Pilwalkot Bandung di detik-detik terakhir.
Berkoalisi dengan 15 parpol yang sebelumnya mengusung Ridwan Kamil, Golkar akhirnya mengusung dua kader terbaiknya, M.Q. Iswara dan Asep Deddy Ruyadi atau Ide. Keduanya secara resmi mendaftarkan diri ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung, Minggu (17/3).
Nama Iswara dan Asep Deddy sudah tidak asing lagi di kancah politik Kota Bandung dan Jawa Barat. Iswara tercatat sebagai Ketua Komisi D DPRD Jawa Barat dan Sekretaris DPD Partai Golkar Jabar. Sedangkan Asep Deddy saat ini menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Kota Bandung dan Wakil Ketua DPRD Kota Bandung.
Diantar ratusan pendukungnya, termasuk partai pengusung, Iswara-Asep datang ke KPU Kota Bandung sekitar pukul 11.45 WIB. Keduanya mengenakan kemeja putih lengan panjang dipadu celana katun hitam. Pasangan Ide ini diterima Sekretaris Kelompok Kerja (Pokja) Pencalonan, Andri Nurdin.
Pokja Pencalonan menyatakan, Iswara-Asep dinyatakan bisa mendaftarkan diri. Karena jumlah dukungan dari partai pengusung berjumlah 15,81 persen.
Iswara menyatakan, Golkar memutuskan untuk mendaftarkan diri masa injury time. Apalagi, Golkar baru saja ditinggalkan kadernya yang akan diusung karena memilih hengkang ke partai lain.
"Di media massa dalam tiga hari ini ramai diberitakan tentang masalah tersebut. Di detik-detik terakhir, Golkar ditinggalkan orang yang mengaku kader tapi pindah ke partai lain," ujarnya.
Seiring perkembangan, lanjut Iswara, Ketua Umum (Ketum) DPP Partai Golkar, Aburizal Bakrie menelepon dan memintanya untuk maju dalam Pilwalkot Bandung 2013.
"Sebagai kader, saya ditugaskan untuk menyelamatkan Golkar dan memenangkan Pilwalkot Bandung," katanya.
Selain, itu Ical --panggilan ak-rab Aburizal Bakrie-- juga menginstruksikan Iswara untuk mencari pasangan dan melakukan koalisi. "Setelah itu, akhirnya saya memutuskan untuk menggandeng Pak Asep Deddy Ruyadi yang memiliki kapasitas, kapabilitas, dan memiliki chemistry dengan saya," tambahnya.
Sementara itu, Asep mengaku keduanya diperintahkan langsung Ical untuk maju dalam pilwalkot. Menurutnya, Iswara adalah "tangan Tuhan" yang menyelamatkan Golkar setelah dizalimi.
"Pak Iswara adalah tangan Tuhan yang telah menyelamatkan Golkar. Saya telah memaafkan Edi Siswadi yang telah pindah ke partai lain. Marilah kita bersaing dengan sehat dan tidak ada ganjalan lagi," katanya.15 partai pengusung
Partai yang mengusung pasangan dari Golkar yaitu PDS (Partai Damai Sejahtera), PKNU (Partai Kebangkitan Nahdlatul Umat), PKPB (Partai Karya Peduli Bangsa) PBR (Partai Bintang Reformasi), Barnas (Barisan Nasional) PPD (Partai Persatuan Daerah), Partai Merdeka, PKDI (Partai Kesatuan Demokrasi Indonesia), PPI (Partai Persatuan Indonesia), PNBKI (Partai Nasional Bangkit Kedaulatan Indonesia), Partai Kedaulatan, Patriot, PPDI (Partai Persatuan Demokrasi Indonesia), PIS (Partai Indonesia Sejahtera), dan PDP (Partai Demokrasi Pembaharuan).
Sementara itu, KPU Kota Bandung menunggu berkas keabsahan kepengurusan dari partai politik nonparlemen pengusung pasangan Iswara-Asep Deddy.
"Hingga batas waktu terakhir malam ini (kemarin, red) berkas tersebut harus dipenuhi. Jika tidak, KPU akan memutuskan nasib pasangan Iswara-Asep Deddy melalui rapat pleno," katanya.



0 comments:
Post a Comment