Ratusan guru honorer pendidikan anak usia dini (Paud) yang tergabung dalam forum guru Paud (Forguud) Kota Bandung mendatangi gedung DPRD Kota Bandung, Jalan Sukabumi, Senin (15/2/2016). Mereka datang untuk menyampaikan sejumlah tuntutan.
Berdasarkan pantauan galamedianews.com, dengan menggunakan baru seragam putih hitam, ratusan ibu-ibu guru berkumpul dengan membentangkan sejumlah tulisan yang berisi tuntutan. Meski dibawah rintik hujan tak menyurutkan semangatnya menyuarakan aspirasinya.
Ketua Forguud Kota Bandung, Sumi Bagea mengatakan pihaknya menuntut kesejahteraan merata bagi para guru-guru Paud yang ada di Kota Bandung. Sebab selama ini guru Paud merasa terdiskriminasi perihal kesejahteraan.
"Honor guru Paud di Kota Bandung saat ini antara Rp 100 ribu - Rp 400 ribu/bulan bahkan tak sedikit yang tak mendapat honor sedikitpun," katanya disela-sela unjuk rasa.
Selain minimnya pendapatan, ujar dia, guru Paud juga tidak menerima dana hibah ataupun tunjangan daerah. Hal ini berbeda dengan guru-guru TK, RA, dan TKQ yang sejak 2 tahun terakhir memperoleh tunjangan tahunan dari pemkot Bandung.
Padahal menurut peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 137 tahun 2014 guru Paud berkedudukan setara dengan guru TK dan RA. Sehingga seharusnya guru Paud mendapatkan perlakuan yang sama.
Ia menyebut selama ini pihaknya dituntut meningkatkan kompetensi oleh pemerintah. Yaitu dengan mengikuti serangkaian pelatihan dan mengeluarkan sejumlah biaya dari kocek pribadi. Namun hasil akhirnya berupa sertifikat pun tak juga diterima.
"Kita dituntut kualitas tapi tidak ada feed back dari pemerintah. Kalau bisa untuk pelatihan nanti kita minta gratis dari pemerintah, bukan dari uang pribadi," jelas dia.
Selain itu, pihaknya juga tidak ingin mendapatkan pengakuan bahwa guru PAUD di Kota Bandung ini ada dan bekerja secara profesional. Guru paud adalah pendidik bukan pengasuh.
50 persen guru Paud di Kota Bandung sudah menyandang gelar S1. Sedangkan sisanya tengah menjalani studi serupa di sejumlah tempat perkuliahan. "Kita kan sudah jelas profesioanal, kompetinsi kita tinggkatkan. Kita tidak ingin disebut pengasuh, tapi pendidik yang sama-sama ingin mencerdaskan generasi penerus bangsa," ujar dia.



0 comments:
Post a Comment