Guna meminimalisasi tingkat konflik jelang Pilkada tanggal 9 Desember
2015 secara serentak khususnya di Jawa Barat, sejumlah organisasi
masyarakat (Ormas, OKP dan LSM) berkomitmen untuk menjaga dan
menciptakan wilayah Jawa Barat damai dan kondusif.
Demikian
disampaikan Ketua Umum LSM Macan Siliwangi, Muh Arif Muharam S.H., S.Sos
yang juga penggagas kegiatan deklarasi kebangsaan Ormas, OKP dan LSM di
Jawa Barat saat ditemui "galamedianews.com" usai silaturrahmi
kebangsaan di Hotel Grandia, Jalan Cihampelas Bandung, Rabu
(25/11/2015).
Kegiatan yang diikuti 40 pengurus dan pimpinan
ormas/OKP/LSM juga diisi pembekalan dari Kodam III Siliwangi, Polda
Jabar serta Pemprov Jabar. Hadir juga tokoh pemuda dari pemuda NTT,
pemuda Kupang, pemuda Sulawesi, dan tokoh pemuda Ambon Maluku.
Menurut
Arif, pelaksanaan pesta demokrasi pemilihan kepala daerah (Pilkada)
secara serentak yang digelar awal Desember 2015, pihaknya merasa
terpanggil untuk mewujudkan Jawa Barat yang damai, aman dan terkendali
dengan filosofi silih asah, silih asih, dan silih asuh.
Pada
kesempatan tersebut Arif menyatakan, kegiatan silaturrahmi kebangsaan
menjadi salah satu pemikiran untuk mempersatukan semua unsur masyarakat
dalam ikatan persaudaran yang positif, persaudaraan yang terbangun di
tanah sunda untuk bersama-sama menjaga dan membangun lembur urang dengan
berpegang erat pada kearifan lokal kesundaan dan budaya guna mendukung
terciptanya persatuan dan kesatuan bangsa.
Dibayar
Sementara Direktur Intelkam Polda Jabar, Kombes Pol Sumadi menyatakan,
pelaksanaan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di Desember 2015,
menurutnya, semua daerah di Jawa Barat berpotensi konflik, namun daerah
yang perlu diantisipasi daerah yang juga melaksanakan Pilkada Bupati
dan Walikota.
"Semua daerah berpotensi konflik, namun dengan
adanya kegiatan seperti ini, salah satunya untuk meminimalisasi konflik
yang dilakukan oleh warga," kata Sumadi.
Pada kesempatan
tersebut, Sumadi menyampaikan, saat ini marak aksi unjuk rasa dengan
berbagai permasalahan yang disampaikan. Namun, secara umum jajarannya
(polri,red) telah menemukan berbagai kegiatan unjuk rasa yang sengaja
dibayar atau lebih dikenal unjuk rasa bayaran, sehingga kegiatan unjuk
rasa kini menjadi trend sebagai mata pencaharian.
"Kami ketahui
itu, setelah melakukan pendekatan dengan para pengunjuk rasa. Contohnya,
unjuk rasa hanya berteriak-teriak dibayar Rp 40.000, bila saling dorong
dengan aparat Rp 50.000, unjuk rasa hingga jebol pagar mendapat bayaran
antara Rp 60.000 hingga Rp 100.000," tandas Sumadi yang disambut tepuk
tangan Ormas, OKP, dan LSM.
Ancaman
Hal senada
disampaikan pembicara dari Kodam III Siliwangi, Letkol (Inf) Dr. Tugiman
mengatakan, adanya pembinaan seperti deklarasi kebangsaan tak lain
untuk dapat mewujudkan kondisi yang aman, sehingga nantinya tidak
terjadi gesekan dan benturan baik itu vartikal maupun horizontal pada
Pilkada.
Pada kesempatan tersebut Tugiman menyampaikan, wawasan
kebangsaan dan kesadaran bela negara dimana kesadaran bela negara
terkait sikap, tekad, semangan dan perilaku warga negara yang dijiwai
kecintaan kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia & UUD 1945 dalam
menjami kelangsungan hidup bangsa dan negara.
Sedangkan ancaman yang senantiasa terjadi baik didalam maupun luar
negeri, sehingga membahayakan kedaulatan negara, keutuhan wilayah dan
keselamatan bangsa seperti agresi, pelanggaran wilayah, spionase, aksi
teror bersenjata, pemberontakan bersenjata, dan perang saudara.
Sumber
Subscribe to:
Post Comments (Atom)



0 comments:
Post a Comment