Ribuan siswa dan guru SMAN 8 Kota Bandung melaksanakan salat ghaib
dan doa bersama untuk mendoakan guru dan teman mereka, Raden Adang Joppy
Lili (58) di sekolahnya, Jln. Solonotngan Bandung, Senin (14/9/2015).
Adang merupakan salah seorang korban jatuhnya crane di Masjidil Haram
beberapa waktu lalu.
Suasana haru terasa saat imam membacakan doa. Guru dan siswa banyak
yang mencucurkan air matanya. Maklum saja, Adang dikenal guru dan
siswanya merupakan sosok yang low profile, dekat dengan siapapun,
komunikator, dan guru favorit.
Menurut salah seorang guru, Yanti Mulyati, ia adalah guru yang
komunikatif dan selalu bercanda. "Mau pergi juga masih selalu bercanda,"
ujar Yanti.
Ia menilai, candaan Adang saat mau pergi ibadah haji seperti
seorang teman yang begitu rindu karena akan meninggalkan sahabatnya.
"Kalau saya menilai, beliau itu seperti yang sono. Alim ngantunkeun
rerencangan," ujar Yanti.
Dalam kesempatan tersebut, ribuan guru dan siswa usai menggelar
solat gaib dan doa bersama, mereka langsung melaksanakan salat istisqa.
Sementari itu di Mata Annisa Melani, siswa kelas XI IPA 2 SMAN 8 Kota Bandung memerah, tangannya selalu menyeka air
matanya yang terus keluar.
Maklum Annisa adalah Sekretaris Kelas XI IPS 2 yang sudah dekat dengan sang wali kelas, Raden Adang Joppy Lili (58). Adang merupakan salah seorang korban jatuhnya crane di Masjidil Haram beberapa waktu lalu.
Menurut Annisa, firasat kepergian Adang sudah terasa. Sebelum berangkat, Adang pernah meminta maaf dan ingin tinggal di sana (Mekah).
"Saat itu bilangnya Bapak ingin tinggal di Mekah. Kita sudah menafsirkannya Bapak ingin meninggal di sana. Tapi kita segera menepis anggapan itu, mungkin bapak bercanda," kata Annisa sambil terisak.
Unik
Ternyata, lanjutnya, keinginan Adang untuk tinggal di sana (Mekah) benar-benar untuk selamanya. Kata-kata "ingin tinggal di sana" selalu diulang-ulang.
"Bapak juga sering bilang menitipkan kita kepada guru-guru yang lain. Nyaris kepada setiap guru," ujarnya.
Di mata anak didiknya, ia adalah guru yang bageur, ngemong, dan perhatian. Meskipun Adang baru sekitar 2 bulan menjadi wali kelas, namun kedekatan bersama anak-anak didiknya serasa sudah lama.
"Baru dua bulan kita bersama, namun serasa sudah lama dekat. Beliau sangat perhatian dan dekat dengan kami. Yang kami merasa bangga, adalah cara dia mengajar dan menegur. Selalu ada cara yang unik. Sehingga membuat kami selalu semangat belajar," ujarnya. sumber//
Maklum Annisa adalah Sekretaris Kelas XI IPS 2 yang sudah dekat dengan sang wali kelas, Raden Adang Joppy Lili (58). Adang merupakan salah seorang korban jatuhnya crane di Masjidil Haram beberapa waktu lalu.
Menurut Annisa, firasat kepergian Adang sudah terasa. Sebelum berangkat, Adang pernah meminta maaf dan ingin tinggal di sana (Mekah).
"Saat itu bilangnya Bapak ingin tinggal di Mekah. Kita sudah menafsirkannya Bapak ingin meninggal di sana. Tapi kita segera menepis anggapan itu, mungkin bapak bercanda," kata Annisa sambil terisak.
Unik
Ternyata, lanjutnya, keinginan Adang untuk tinggal di sana (Mekah) benar-benar untuk selamanya. Kata-kata "ingin tinggal di sana" selalu diulang-ulang.
"Bapak juga sering bilang menitipkan kita kepada guru-guru yang lain. Nyaris kepada setiap guru," ujarnya.
Di mata anak didiknya, ia adalah guru yang bageur, ngemong, dan perhatian. Meskipun Adang baru sekitar 2 bulan menjadi wali kelas, namun kedekatan bersama anak-anak didiknya serasa sudah lama.
"Baru dua bulan kita bersama, namun serasa sudah lama dekat. Beliau sangat perhatian dan dekat dengan kami. Yang kami merasa bangga, adalah cara dia mengajar dan menegur. Selalu ada cara yang unik. Sehingga membuat kami selalu semangat belajar," ujarnya. sumber//



0 comments:
Post a Comment