Golkar Masih Bingung untuk berkoalisi
Monday, May 12, 2014
Dinamika politik nasional setelah penetapan hasil Pemilu Legislatif 2014 diketahui masih sangat cair. Beberapa partai telah menyatakan diri bergabung ke poros tertentu, tetapi partai lain masih belum mengambil sikap, salah satunya Partai Golkar.
Partai Golkar mendapat suara signifikan pada pemilu tahun ini, yakni 14 persen suara nasional. Jumlah itu terbanyak kedua setelah PDI Perjuangan, yang mendapat sekitar 18 persen suara sah nasional.
Meski menjadi partai kedua dengan perolehan suara terbanyak, partai yang dipimpin Aburizal Bakrie itu seperti masih bingung menentukan sikap. "Kita masih yakin, kita akan ada di satu posisi, bergabung dengan poros kuat, atau membangun poros baru," kata Wakil Sekretaris Jenderal DPP Partai Golkar Tantowi Yahya di Kompleks Gedung MPR/DPR RI, Senayan, Jakarta, Senin (12/5/2014).
Menurut Tantowi, saat ini ada dua poros yang dianggap paling kuat di arena pemilu presiden. Selain poros PDI-P yang mengusung Joko Widodo, poros Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto akan menjadi pesaing kuat. Namun, menurut Tantowi, masih sangat mungkin bagi Golkar untuk memimpin poros baru. Pasalnya, masih ada beberapa partai yang belum bersikap jelas, salah satunya Partai Demokrat.
"Politik itu serba mungkin, masih ada partai besar yang belum menentukan sikap seperti Demokrat. Itu bisa jadi alternatif," ujarnya.
Tantowi mengatakan, yang paling realistis untuk Golkar saat ini adalah bergabung dengan salah satu poros, yakni PDI-P atau Gerindra. Alasannya adalah karena dua poros itu dianggap paling kuat di Pilpres 2014. Jika wacana itu ingin ditanggapi serius, maka semuanya harus diputuskan melalui forum Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Partai Golkar yang rencananya akan digelar di akhir pekan ini.
"Semua ada plus-minusnya, terutama dalam situasi sekarang ini yang sudah sangat berbeda dengan situasi sebulan lalu," ucapnya.
Di lokasi yang sama, Ketua DPP Partai Golkar Firman Subagyo mengatakan bahwa Golkar masih terus mengamati suasana politik terkini. Ia menyatakan, bukan tidak mungkin Golkar menunggu kondisi politik jelang penutupan masa penutupan pendaftaran capres/cawapres. Menurut Firman, ada juga usulan agar Golkar memunculkan nama baru untuk diusung menjadi pendamping bakal capres tertentu.
"Politik itu dinamis, apakah tetap capres, cawapres, atau bergabung di kekuatan besar, last minute bisa berubah," kata Firman.
Sejauh ini Golkar telah melakukan komunikasi politik dengan Partai Gerindra, PDI-Perjuangan, Partai Hanura, hingga Partai Demokrat. Namun, kepastian koalisi itu belum juga diambil dan kemungkinan besar akan ditetapkan di dalam forum rapimnas sebagai "tikungan" terakhir sebelum mencapai garis akhir.
sumber
Labels:
Berita
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 comments:
Post a Comment